Rabu, 19 November 2014

Sekali

Sungguh, baru sekali. Dan cukup 1x aku melihat kemarahan, suara lantang, dan emosi membumbung di ubun-ubun dia. Sungguh tiada disangka, pangeran yg tiada pernah memperlihatkan amarahnya, tiada pernah emosi hingga membumbung tinggi di ubun-ubunnya, pagi itu benar2 ia perlihatkan. Sungguh pemandangan yang menakutkan di saat mentari belum menampakkan semyumnya namun 'ia' telah dahulu menampakkan amarahnya kepada alam dan penghuni benda biru bulat nan raksasa bila dilihat dari antariksa.
Tubuhku bergetar melihat wajahnya, suaranya yang menggelegar, dan amarahnya yang berapi-api.
Sungguh tiada daya untuk melihat pemandangan sesuram itu.

Selalulah tersenyum pangeranku...
Jangan pernah kau tampakkan lagi gurat wajahmu yang saat itu aku lihat...
Tetaplah tersenyum dan membuat semua orang tersenyum sayang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar