Sabtu, 03 Januari 2015

Malam Minggu

Malam minggu.
Ya, malam ini malam minggu. Jadi ingat malam minggu-malam minggu beberapa tahun yang lalu.

Malam Minggu di tahun 2006
Saat itu, teman-teman sibuk membicarakan malam minggu mereka. Mereka jalan kemana, dengan siapa, hingga jam berapa. Aku hanya diam dan setia menjadi pendengar yang baik. Walau statusku telah memiliki seorang kekasih yang sangat tampan, namun sebutan sebagai anak mama dan anak rumahan itulah yang membuatku selalu tetap di rumah.

Malam minggu di tahum 2007, 2008, hingga 2009
Malam-malam itu aku lalui sama dengan malam minggu-malam minggu ditahun sebelumnya. Hanya di rumah. Esok harinya, seperti biasanya. Menjadi pendengar setia terhadap cerita teman-temanku. Cerita tentang malam minggu mereka dengan siapa, pergi kemana, hingga jam berapa, dan bagaimana keasyikan mereka. Terkadang, sempat terbesit juga rasa iri atas cerita-cerita mereka. Namun, aku sadar bahwa itu semua tidaklah mungkin. Tugasku saat itu hanyalah belajar, belajar dan belajar. Karena saat itu tujuanku memiliki kekasih hanyalah sebatas penyemangat dan motivasi untuk tetap belajar dan berprestasi. Begitupun dia. Kami saling berlomba dalam berprestasi di tempat kami menuntut ilmu. Meski berbeda tempat, namun itu tidak menghalingi kami untuk tetap bersaing dalam hal prestasi. Bahkan dengan persaingan itulah yang membuat kami sering bertemu saat ada perlombaan.

Terkadang kami heran, orang-orang selalu mengira bahwa kami satu tempat pendidikan sehingga kami bisa selalu bersama dan kompak. Padahal itu semua sangatlah berbeda dengan kenyataannya. Karena pada kenyataannya kami tidaklah pernah berada pada satu tempat yang sama saat itu.

#mungkin itulah yang namanya jodoh. *pikirku dalam hati

Hingga malam minggu di tahun 2010
Saat usiaku genap 17 tahun (kata mereka sweet seventeen), mulai saat itu barulah aku bisa merasakan bagaimana yang mereka sebut dengan malam minggu. Namun itu tidaklah seperti mereka yang bepergian bersama kekasihnya kesuatu tempat. Kami hanya mengobrol diteras gubukku. Namun aku bersyukur, karena ia tidaklah keberatan walau hanya diteras gubuk reot yang aku dan keluarga hidup disana. Sungguh laki-laki sejati yang mau menerimaku dengan segala kekurangan. Yang dengan setia menghabiskan waktunya bersamaku sejak 23 April 2006 lalu.
Sejak malam itu, setiap malam minggu ia berkunjung ke gubuk kami untuk mengisi malam minggu kami.

Hingga tahun 2012 ia setia melakukan hal yang sama.
Namun di pertengahan tahun 2012, kami mendapatkan sinyal hijau dari kedua orang tuaku. Mereka tidak lagi melarang kami untuk melakukan apa yang kami inginkan selagi tidak melanggar adat, norma, dan agama. Saat itu barulah aku tahu dan merasakan apa dan bagaimana rasanya mengisi malam minggu bersama sang kekasih seperti yang aku dengar dari teman-temanku.

Sungguh kebahagiaan yang tiada dapat ku lukiskan dengan kata-kata. Hingga disuatu malam minggu di awal tahun 2013. Sungguh tiada pernah ku bayangkan. Malam itu menjadi malam yang sangat spesial. DIA MELAMARKU!!! Dia ingin aku menjadi ibu dari anak-anaknya. Dia mengajakku MENIKAH!!!

Sungguh kebahagiaan yang tiada terkira. Setelah 7 tahun menjalani hubungan dengan status "pacaran" akhirnya ia melamarku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar