Minggu, 14 Februari 2016

Isi hati

Sungguh, q tak ingin berkata lantang & keras di telingamu dan anak kita. Aku ingin selalu bicara lembut. Namun kondisilah yang memaksaku. Kau selalu kasar kalau bicara denganku. Sungguh,  itu menyakitkan hatiku. Belum lagi kau selalu membentakku. Semua ingin ku simpan saja. Tapi terkadang aku juga gak bisa mengontrol emosiku. Kau selalu marah tanpa sebab, tanpa aku tau apa salahku, dan tanpa mendengar penjelasanku. Aku sayang, sayang banget. Q cuma minta untuk d hargai, d sayamg, dan dilembuti. Itu aja. Q gak minta harta benda atau apapun. Bisa hidup tenang, aman dan damai berkumpul dengan kalian semua dah senang & bahagia rasanya.

Sayang, dengarkanlah jeritan batinku... aku ingin kita dalam ketenangan...

Jumat, 05 Februari 2016

Sendiri

Sering aku merasakan kesendirian ini. Dulu, saat aku SD aku berfikir, mungkin nanti setelah aku SMP semua akan berubah.
Namun apa yang terjadi??? Jawabannya adalah SAMA!!!

Jadi saat itu aku berfikir. Mungkin nanti, saat aku SMA semua akan berubah lebih baik lagi.

Dan... jawabannya maaih tetal SAMA!!!

Hingga aku memutuskan untuk kuliah. Ternyata masih juga SAMA!!! Padahal semuanya aku perjuangkan sendiri. Semua impian2ku, ku kejar sendiri. Ku kerjakan sendiri. Meskipun harus meraba dan merangkak. Hingga saat akan dimulai, kekuasaan itu kembali datang. Dan aku harus jatuh sejatuh-jatuhnya. Lemas, kecewa, segala perasaan itu campur aduk dalam hati dan otakku. Perasaan putus asa yg sangat mendalam karena kekuasaan itu hampir merenggut nyawaku. Namun Allah berkehendak lain. Aku masuk ke dunia yang benaŕ2 bukan aku. Mèmang, disana aku 'bisa'. Tapi itu bukan aku. Itu hanya pelampiasanku karena kekecewaanku. Dan akhirnya aku mengambil keputusan dalam hidup. Mungkin itu memang keputusan yang salah. Tapi aku sudah terlalu lelah dalam kepura-puraanku. Saat itu aku kembali berpikir "mungkin semua akan berubah".

Aku lelah dengan kata-kata itu. MUNGKIN SEMUA AKAN TETAP SEPERTI ITU. TIDAK AKAN BERUBAH. KECUALI AKU MATI.

AKU SUDAH TERLALU LEMAH WAHAI HARAPAN...

...

Ternyata berumah tangga itu tidaklah mudah. Hanya bayangan pernikahan sesaat sebelum menikahlah yang indah. Namun saat menjalani semuanya sungguh berat. Lelaki yang telah menjadi pilihan dahulu, kini berubah menjadi orang asing bagiku. Sungguh asing. Namun aku akan tetap berusaha menahan hatiku ini agar tetap bisa menganggapnya sebagai 'dia' yang dulu. Demi anakku.
Air mata yang dulu aku kira akan kring dihapusnya, ternyata salah. Sekarang dialah penyebab banjirnya air mataku. Sungguh, sungguh, sungguh ahh tak tau bagaimana mengatakannya lagi.

Suamiku, dengarkanlah kata hatiku. Jadilah orang yang aku kenal dulu.
Aku sungguh menyayangimu. Apa kau tak lagi menyayangiku???

Terkadang aku merasa hanya menjadi pelampiasanmu. Segala pelampiasan. Aku mohon, ubahlah prasangkaku ini. Aku ingin kita aeperti dulu lagi...